<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3735822752687860574</id><updated>2012-02-16T13:51:20.936+07:00</updated><title type='text'>Wisata Q-ta</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wisataqta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisataqta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Quarta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SJq3oBpsatI/AAAAAAAAAKE/m2vzfQzi7ew/s1600-R/aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3735822752687860574.post-2760042307074688852</id><published>2008-09-20T12:49:00.000+07:00</published><updated>2008-09-20T12:54:55.958+07:00</updated><title type='text'>Kawah Ijen</title><content type='html'>&lt;img src="http://www.lareosing.org/thumbnail.php?f=images/news/images/news/ijen.jpg&amp;amp;s=100" class="gambar" alt="" align="left" border="0" hspace="3" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://www.lareosing.org/images/news/ijen.jpg" alt="" align="left" border="" height="150" hspace="5" vspace="5" width="200" /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kawasan Wisata Kawah Ijen terletak di tengah area cagar alam Kawah Ijen yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bondowoso, Kecamatan Klobang dan Kabupaten Banyuwangi, Kecamatan Licin. Kawah ini berupa danau berwarna hijau tosca yang berda di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut. Kawah itu berdinding kaldera setinggi 300-500m. Danau Ijen memiliki derajat keasaman nol, memiliki kedalaman 200 meter. Keasamannya cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawah ini memiliki luas sekitar 5.466 hektar. Air kawah itu cukup tenang dan berwarna hijau kebiru-biruan. Pemandangan di sana terlihat begitu menakjubkan di pagi hari. Air kawah yang volumenya sekitar 200 juta meter kubik dengan panas mencapai 200 derajat celcius itu memancarkan kemilau hijau keemasan saat sinar mentari menerpa dari balik Gunung Merapi, saudara kembar Gunung Ijen.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mencapai daerah ini terdapat dua cara, pertama melalui kota Banyuwangi sejauh 38 km ke barat melalui Licin-Jambu-Paltuding. Cara kedua yaitu melalui kota Bondowoso ke arah timur melalui Wonosari-Sempol-Paltuding sejauh 70 km. Namun meski jauh cara kedua ini yang paling banyak dipilih para pengunjung karena jalannya sudah beraspal mulus. Sedangkan rute lewat Banyuwangi jalannya masih berupa makadam dengan tanjakan yang cukup curam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika lewat rute dari Bondowoso, dalam perjalanan akan melalui daerah terbatas areal perkebunan kopi yang mempunyai tiga pintu gerbang yang berbeda. Pada setiap pintu gerbang, pengunjung akan diminta untuk mengisi buku tamu dan menuliskan tujuan perjalanannya. Pemandangan kawasan ini sangat menarik dengan hamparan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, kemudian setelahnya ada hutan pinus milik Perhutani dan juga hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang begitu lebat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan wisata ke kawah Ijen, dimulai dari Paltuding yang merupakan sebuah pos Perhutani di kaki gunung Merapi-Ijen. Dari sini terdapat jalan tanah menanjak ke ketinggian 2.400m dengan waktu tempuh 2 jam dengan berjalan santai. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan akan segera tersaji di depan mata. Sebuah danau hijau dengan diameter sekitar 1 km yang berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Dari sini pengunjung bisa melihat penambang-penambang belerang yang berada di dekat danau. Untuk menuju ke danau, pengunjung harus menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang juga biasanya dilalui oleh para penambang. Sapu tangan basah disini sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdapat lokasi penambangan juga menjadi keunikan utama yang lain dari wisata Kawah Ijen selain tentunya keindahan panorama yang ada di sana. Penambangan belerang di sini masih memakai cara tradisional dimana pengangkutannya memakai cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia yaitu di Welirang dan Ijen. Beban yang diangkut masing-masing penambang bisa mencapai berat 85kg. Beban ini luar biasa berat apalagi kalau harus diangkut melalui dinding kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3km. Penghasilan yang diterima seorang penambang rata-rata Rp.25 ribu atau sekitar Rp.300,- per kilonya. Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali perjalanan setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Semua penambang akan berkumpul di bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan â€œPengairan Kawah Ijenâ€�, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Di pos inilah para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar kawah, sejajar dengan permukaan danau. Asap putih pekat selalu keluar menyembur melalui pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Dari sinilah lelehan fumarol berwarna merah menyala meleleh keluar dan langsung membeku terkena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Batu-batuan belerang inilah yang akan diambil. Dipotong dengan bantuan linggis dan kemudian langsung diangkut dalm keranjang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain menuju permukaan danau, pengunjung dapat juga mengelilingi kaldera yang memakan waktu kurang lebih seharian penuh. Pendakian ke Kawah Ijen umumnya disarankan dimulai pada pagi hari. Demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14:00, karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian. Untuk mengejar perjalanan di pagi hari, pengunjung disarankan menginap di kota terdekat yaitu Bondowoso atau Situbondo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika menyukai suasana perkebunan, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Perkebunan inilah yang dilewati ketika menuju kawasan Ijen melalui rute Bondowoso. Tersedia pula sajian paket agro wisata mengunjungi kebun kopi dan melihat unit pemrosesan biji kopi.. Selain itu juga terdapat pula Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau bisa membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/js/wfapiv2.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=post&amp;amp;cid=TEXTAREA_ID&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=share&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51); font-style: italic; font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3735822752687860574-2760042307074688852?l=wisataqta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisataqta.blogspot.com/feeds/2760042307074688852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3735822752687860574&amp;postID=2760042307074688852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/2760042307074688852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/2760042307074688852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisataqta.blogspot.com/2008/09/kawah-ijen.html' title='Kawah Ijen'/><author><name>Quarta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SJq3oBpsatI/AAAAAAAAAKE/m2vzfQzi7ew/s1600-R/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3735822752687860574.post-1199164041522279991</id><published>2008-09-20T12:44:00.000+07:00</published><updated>2008-09-20T12:48:45.995+07:00</updated><title type='text'>Padang Rumput Sadengan perlu Penanganan Serius</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:14;"&gt;&lt;div&gt;&lt;img style="width: 182px; height: 119px;" src="http://lareosing.org/images/sadengan.jpg" alt="Sadengan" align="left" border="" hspace="" vspace="" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ujung timur Pulau Jawa adalah salah satu tempat terbaik bagi kegiatan wisata alam. Betapa tidak, kawasan ini menawarkan atraksi wisata yang beragaman, dan bahkan banyak diantaranya adalah khas dan unik. Namun demikian, pertanyaan mendasar yg saat ini timbul adalah apakah tempat-tempat dan atraksi tersebut mempunyai masa depan? Lebih jauh jika mau dipersoalkan, apakah generasi mendatang masih akan menikmati keindahan panorama alam dan warisan budaya Banyuwangi yang telah mendunia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Padang rumput Sadengan adalah padang rumput semi alami yang terdapat di kawasan Taman Nasional Alas purwo, Semenanjung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi. Disebut sebagai padang rumput semi alami karena pada faktanya, keberadaan padang rumput ini bukanlah secara alamiah terjadi. Padang rumput ini sebenarnya muncul karena kerusakan-kerusakan beberapa petak hutan di masa lampau yang kemudian menimbulkan spot-spot padang rumput pada hamparan hutan di Semenanjung Blambangan. Hilangnya kanopi dan tutupan tajuk dalam waktu yang lama membuka peluang bagi bermacam rumput untuk tumbuh, dan kemudian dimanfaatkan oleh berbagai satwa sebagai salah satu habitat pentingnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena padang rumput ini dahulunya menyediaan pakan berlimpah bagi herbivora di Semenanjung Blambangan, pengelola memandang bahwa Sadengan adalah tempat ideal bagi konservasi satwa liar seperti Banteng, Rusa, Babi hutan dan aneka ragam satwa lainnya. Untuk merealisasikin gagasan konservasi tersebut, sebuah aktifitas campur tangan manusia dimulai dalam tahun 1970’an dengan meningkatkan kapasitas padang. Kegitan peningkatan kapasitas habitat ini antara lain adalah dengan membersihkan kawasan dari berbagai tetumbuhan yang menghalangi rumput tumbuh, menanan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rumput, membuat irigasi teknis untuk mengairi padang, dan melakukan pembinaan terhadap padang. Pertamakali sejak padang ini dikelola, satwa liar tercatat sangat melimpah di padang rumput. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkin jumlahnya sama dengan apa yang digambarkan oleh peneliti Eropah jauh sebelumnya. Catatan oleh van Steenis, (1937), mengatakan bahwa jumlah banteng bias mencapai angka sekitar 100 ekor dalam satu pengamatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di Pulau Jawa, pemandangan padang rumput dengan berbagai satwa di dalamnya adalah sangat langka, sehingga mengundang hasrat pada pelancong untuk mengunjungi padang rumput sadengan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menyadari potensi wisata yang ada didalamnya, sebuah menara pandang dibangun untuk memfasilitasi kegiatan pengamatan satwa. Berbagai promosi wisata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemudian dengan gencar mempromosikan Sadengan dan reputasinya sebagai &lt;i style=""&gt;The Last Habitat of wildlife in Java Island&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Peran dari Sadengan dalam membangun image wisata kabupaten Banyuwangi juga sangat signifikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun demikian, apakah Sadengan mempunyai masa depan? Penelitian yang dilakukan oleh penulis menunjukkan bahwa perlu kerja keras untuk menyelamatkan Sadengan. Jika mau ektrim, dalam jangka waktu 5-10 tahun lagi, Sadengan tinggal cerita. Mengapa demikian? Jawaban yang pasti karena kerusakan habitat yang sudah sangat kronis, terus-menerus terjadi dan ada indikasi tidak akan tertangani. Apakah sudah tamat? Belum, dengan catatan bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;manajemen secara terintegratif harus segera dilakukan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jika saat ini pengendalian dan kontrol terhadap kualitas padang rumput menjadi perhatian utama Taman Nasioanl Alas Purwo sebagai pemangku kawasan, maka seyogyanya pemerintah daerah dan masyarakat mulai bergerek untuk menyelamatkan Sadengan. Ini penting, karena Sadengan adalah salah satu aset berbarga. Jumlah banteng di dunia ditaksir berkisar 1000 ekor, dan jumlah ini terus menyusut karena hancurnya habitat banteng. Bisa jadi, suatu saat, manyarakat dunia harus pergi ke Banyuwangi untuk melihat banteng, seperti manyarakat dunia harus pergi ke TN. Komodo untuk melihat komodo, hewan prasejarah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang hanya hidup di NTT. Namun, tentunya dengan catatan habitat banteng harus diselamatkan sebelum bermimpi hal tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Padang rumput Sadengan saat ini dalam tekanan dan stress berat karena serbuan dua spesies tumbuhan utama yang menjadi kanker dan tumor ganaspadang rumput. Tumbuhan pertama adalah &lt;i style=""&gt;Cassia tora&lt;/i&gt;, termasuk dalam tumbuhan polong-polongan (&lt;i style=""&gt;Fabaceae&lt;/i&gt;) ini tumbuh hampir menutupi permuknaan padang rumput. Tumbuhan kedua, yang tak kalah ganasnya adalah &lt;i style=""&gt;Eupathorium inulifolium&lt;/i&gt;, kelompok tumbuhan &lt;i style=""&gt;compositae&lt;/i&gt;, yang tak kalah pentingnya dalam merubah wajah Sadengan. Belum lagi, ancaman serius dari berbagai tumbuhan invasive seperti &lt;i style=""&gt;Lantana camara&lt;/i&gt;. Data-data yang dimiliki oleh penulis menunjukkan bahwa tiga macam tumbuhan ini mempunyai indek nilai penting tertinggi diantara tetumbuhan lain di padang rumput. Sebagai contoh, rumput-rumput Cyperus yang berperan sebagai sumber pakan utama satwa herbivore malah mempunyai indek yang kecil, menunjukkan kecilnya dominansi, densitas dan frekuensi tumbuhan tersebut. Dampaknya tentu fatal. Salah satunya adalah berkurannya jumlah banteng yang mengunjungi Sadengan. Kegiatan monotoring yg dilakukan oleh penulis mengindikasikan jumlah satwa banteng turun secara terus menerus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pihak taman nasional bukannya tidak menyadari dan mengambil tindakan. Serangkaian tindakan telah dilakukan sejak tahun sepuluh tahun yang lalu dalam mengendalikan species pengganggu tersebut, antara lain dengan pembabatan, pembakaran dan berbagai cara lain. Namun, hasilnya adalah nihil. Artinya tindakan tersebut tidak banyak berarti. Sampai dengan akhir musim hujan 2008 kemarin, data yang dimiliki penulis menyatakan bahwa semaian-semaian tumbuhan invasive tersebut masih sangat besar. Sebagai gambaran, jumlah semaian &lt;i style=""&gt;E. Inulifolium&lt;/i&gt; mencapai 90.22 individu dalam plot berukuran 1x1 meter persegi untuk di tengah padang, dan 50.45 individu di pinggir hutan. Hanya dibawah rimbunan pohon saja jumlahnya berkuran, yaitu 10.23 individu. Itu terjadi karena memang naungan pohon cenderung menghambat tumbuhan di bawahnya untuk tumbuh dan berkembang. Untuk tumbuhan &lt;i style=""&gt;Cassia tora&lt;/i&gt;, secara berturut-turut tercatat lebih besar dan padat, mencapai 580.77 di area terbuka, 550,41 di sekitar hutan dan 75,02 di bawah kanopi pohon. Selanjutnya ukuran-ukuran fisiologi yang lain juga berbeda secara signifikan. Ini adalah jumlah yang besar. Dan yang pasti menjadi signal yang kuat bahwa teknik pengendalian selama 10 tahun ini gagal, dan tubuhan invasive tetap menjadi ancaman kronis, dan selajutnya jangan berharap melihat banteng melimpah di padang rumput. Jadi, jika tidak ada peran serta masyarakat, hilangkan mimpi anda menikmati suasana seperti di Afrika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagaimana telah saya sampaikan diatas, sebuah manajemen secara terpadu dan terencana mendesak untuk dilakukan. Pengendalian yang terjadi saat ini, sebagaimana insitusi pemerintahan, sangat tergantung dari dana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;proyek Departemen Kehutanan di pusat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, sekali lagi, mengorganisir dan menggerakkan masyarakat adalah salah satu pilihan yang mungkin. Selaian itu, tentunya pemkab Banyuwangi juga sangat berperan penting. Sadengan telah memberikan sumbangan dalam penerimaan PAD dalam sektor wisata, dan telah melambungkan nama Banyuwangi di tingkat internasional karena simbol-simbol banteng dan padang rumputnya. Tidak &lt;i style=""&gt;fair&lt;/i&gt; tentunya jika Sadengan hanya diperas hasilnya, tapi tidak diperhatikan hak-haknya, yaitu pemulihan habitatnya. Ada banyak LSM, pecinta alam, siswa sekolah, pemerhati lingkungan dan kelompok masyarakat lainnya yang dapat diberdayakan. Sasarannya jelas, yaitu mencegah meluasnya penyakit kronik Sadnegan dan mengembalikan kejayaan Sadengan. Kegiatan mencabut tumbuhan sampai seakar-akarnya sebelum tumbuhan menghasilkna biji untuk menyambung populasinya di masa depan adalah kegitan kecil yaang bisa dikoordinasikan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun demikian, perlu diingat bahwa mobilisasi masyarakat dalam jumlah yang besar juga sangat berpotensi untuk membuat satwa liar stress. Untuk itu, diperlukan sebuah pengaturan kegiatan yang secara teknis mampu mengendalikan serangan tumbuhan pengganggu, dan secara ekologis tidak mengganggu satwa liar. Sebuah lembaga pemerhati Banteng dan Padang Rumput Sadengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudah saatnya muncul untuk menyelamatkan aset bumi Blambangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Catatan. Sumber utama diambil dari tulisan berjudul:&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Invasive Plant Species and the Competitiveness of Wildlife Tourist Destination: A case of&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sadengan Feeding Area at Alas Purwo National Park. &lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hakim, et al&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;,. &lt;/span&gt;2005. Journal of International Development and Cooperation. 12 (1): 35-45&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/js/wfapiv2.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=post&amp;amp;cid=TEXTAREA_ID&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=share&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51); font-style: italic; font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3735822752687860574-1199164041522279991?l=wisataqta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisataqta.blogspot.com/feeds/1199164041522279991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3735822752687860574&amp;postID=1199164041522279991' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/1199164041522279991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/1199164041522279991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisataqta.blogspot.com/2008/09/padang-rumput-sadengan-perlu-penanganan.html' title='Padang Rumput Sadengan perlu Penanganan Serius'/><author><name>Quarta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SJq3oBpsatI/AAAAAAAAAKE/m2vzfQzi7ew/s1600-R/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3735822752687860574.post-4744680962766942253</id><published>2008-09-20T12:04:00.000+07:00</published><updated>2008-09-20T12:43:01.080+07:00</updated><title type='text'>Pelengkung, Pantai Ganas yang Terpencil</title><content type='html'>&lt;div class="news"&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;img src="http://www.lareosing.org/thumbnail.php?f=images/news/http://lareosing.org/images/gland.jpg&amp;amp;s=100" class="gambar" alt="" align="left" border="0" hspace="3" /&gt;&lt;a href="http://www.kapanlagi.com/p/pelengkung.jpg" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;img src="http://www.kapanlagi.com/p/pelengkung.jpg" style="border: 1px none ; float: left; padding-right: 10px; width: 200px; vertical-align: middle;" alt="Lihat Gambar" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Untuk Anda penggemar olahraga surfing yang menginginkan sebuah pengalaman yang menguras adrenalin, bersiaplah untuk berkunjung ke sebuah pantai di Jawa Timur.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejenak lupakan tentang Bali, sesaat lupakan ombak menawan di Kuta yang penuh sesak dengan para &lt;i&gt;surfer&lt;/i&gt; lokal maupun asing. Bersiaplah untuk menjajal Pantai Pelengkung, Banyuwangi, Jawa Timur.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kawasan yang dikenal dengan nama &lt;b&gt;G-Land &lt;/b&gt;ini mungkin tak seindah pantai-pantai di Bali, namun jika Anda memimpikan ombak yang besar dan ganas, maka ini adalah pilihan tepat untuk dimasukkan dalam daftar tujuan liburan Anda.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pantai Plengkung terletak 87km dari Banyuwangi, untuk mencapainya pun tak terlalu sulit. Dari Banyuwangi, anda dapat menggunakan kendaraanbermotor menuju ke desa Trianggulasi dengan waktu tempuh 2,5 jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu, persiapkan kaki anda untuk menempuh perjalanan sejauh 12km (4 jamperjalanan), mengingat kendaraan bermotor tak diijinkan untuk melewatidaerah ini demi menjaga kealamiannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi yang ingin sampai ke Plengkung tanpa bersusah payah, Anda dapat menggunakan speed boat dari Kota Grajakan atau dari Benoa Denpasar. Jarak tempuh sangat tergantung pada faktor alam, yaitu cuaca dan ombak.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Trio Ganas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ombak di pantai ini konon hampir setara dengan tiga pantai terbaik di dunia, yang memiliki ombak panjang, tinggi, besar dan keras, yaitu Oahu (Hawaii), Fiji, dan Tahiti. Ketiganya berada di Samudra Pasifik.&lt;/p&gt;&lt;div class="newspic"&gt;&lt;div&gt;&lt;img src="http://lareosing.org/images/gland.jpg" alt="" align="" border="" hspace="" vspace="" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;surfing in Pelengkung &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Panjang ombak &lt;b&gt;G-Land &lt;/b&gt;bisa mencapai 2km dan tingginya bisa mencapai 6m. Begitu kerasnya, tak jarang mampu mematahkan papan selancar yang dipakai para peselancar. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para peselancar papan atas dunia pun pernah mencoba keganasan ombaknya dalam event Quicksilver Pro yang berturut-turut digelar pada 1995-1997. Sayang krisis ekonomi dan kerusuhan yang melanda negeri ini membuat event tersebut dipindah ke negara lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Fasilitas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meski terkesan terisolir, karena dibutuhkan perjuangan untuk mencapainya, pantai Plengkung tetap memiliki fasilitas untuk menjamu para tamunya. Namun bagi anda yang membayangkan akan menemui hotel berbintang di sini, bersiaplah untuk kecewa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena yang ada hanyalahpenginapan atau lebih tepat disebut camp. Tak ada listrik, yang adahanyalah diesel, tak ada siaran TV, yang ada TV yang tak henti-hentinyamenayangkan rekaman video bertema selancar.&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun untuk makanan dan minuman, Anda boleh tersenyum. Karena para pengelola camp ini tetap menyediakan makanan dan minuman sekelas hotel mewah. Meski terbilang 'minim' fasilitas, namun untuk menginap disana, Anda harus merogoh kocek Rp385.000-550.000 permalam, sudah termasuk kaos, ongkos spead boat, makanan dan minuman serta kipas angin (maklum tak ada AC).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Pantai Tetangga&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain Plengkung, Anda juga bisa mengunjungi pantai 'tetangganya' yaitu Pantai Pancur yang terletak 8km sebelah utara &lt;b&gt;G-Land&lt;/b&gt;. Disebut Pancur karena disini terdapat sebuah sungai yang mengalir sepanjang tahun menuju pantai yang terjal sehingga membentuk pancuran.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Takjauh dari sana, terdapat Pantai Trianggulasi yang menyajikan pantaiberpasir putih. Konon pemandangan matahari tenggelam didaerah ini takkalah dengan sunset di Tanah Lot. Anda bisa juga berkunjung ke Pantai Ngagelan yang terletak 5km sebelah barat. Ini adalah pantaitempat pendaratan penyu yang akan bertelur. Jangan lewatkan untukmampir ke Segoro Anak, Pantai Parang Ireng dan Pantai Batu Lawang.Dijamin, anda akan tergugah untuk kembali berlibur kesana. Tunggu apalagi, kemasi barang-barang Anda dan nikmati liburan di Semenanjung&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Blambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;" &gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/js/wfapiv2.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=post&amp;amp;cid=TEXTAREA_ID&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=share&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51); font-style: italic; font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;&lt;br /&gt;                                                                                                                                            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                                                                                                                                                                                 &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51); font-style: italic; font-weight: bold;font-family:arial;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p class="post-footer"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3735822752687860574-4744680962766942253?l=wisataqta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisataqta.blogspot.com/feeds/4744680962766942253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3735822752687860574&amp;postID=4744680962766942253' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/4744680962766942253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/4744680962766942253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisataqta.blogspot.com/2008/09/pelengkung-pantai-ganas-yang-terpencil.html' title='Pelengkung, Pantai Ganas yang Terpencil'/><author><name>Quarta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SJq3oBpsatI/AAAAAAAAAKE/m2vzfQzi7ew/s1600-R/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3735822752687860574.post-896692367762652249</id><published>2008-09-20T11:50:00.000+07:00</published><updated>2008-09-20T12:02:23.812+07:00</updated><title type='text'>Pantai Watudodol</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pantai yang Menyimpan Pesona, Mistik, dan Sejarah Banyuwangi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="" src="http://www.wisatanet.com/images/story/0000000004_gb2_watudodol2.jpg" align="right" border="1" /&gt;Bila Anda hendak ke Bali melalui jalur utara Pulau Jawa, sebelum tiba di Banyuwangi Anda akan melewati Watudodol. Letaknya di pinggir pantai, ditandai dengan patung Gandrung, icon Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BILA Anda tidak ingin berlama - lama di Banyuwangi, sebaiknya sempatkan mampir ke Watudodol. Banyak hal yang menarik di sini. Selain patung Gandrung dan pantainya yang indah, pulau Bali terlihat dari sini. Anda bisa melihat feri menyeberang dari pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk.Mampirlah ke pantainya, di sepanjang jalan terdapat banyak orangberjualan. Anda juga bisa mandi di pantainya, atau berlayar dengan perahu nelayan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="" src="http://www.wisatanet.com/images/story/0000000004_gb1_watudodol.jpg" align="right" border="1" /&gt;Di salah satu bibir pantai ada keajaiban. Mungkinkah sebuah sumur tawar ada di pinggir pantai? Aneh tapi nyata, di Watudodol, ditemukan sumber air tawar. Rasanya tidak asin ataupun antak. Kalau pasang, air bisamasuk ke dalam sumber air ini, tapi airnya tetap tidak asin. Agar tidak terlalu sering terkena air pasang, warga setempat membuatkan pembatas yang dibuat jadi semacam sumur. Jadi bagi mereka yang ingin mengambilairnya bisa menggunakan timba.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat Bali bila menjelang hari suci seperti Waisak, selalu memenuhi tempat ini. Bukan cuma warga Bali, mereka yang datang dari berbagai penjuru tanah air menyempatkan diri datang ke sumur ini untuk mengambil air sumur tawar itu. “Banyak yang percaya, air itu bisa menyembuhkan rematik atau penyakit lainnya,” ujar Siti yang sudah berdagang di sekitar itu selama 5 tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Patung Gandrung adalah salah satu tempat yang tidak bisa Anda lupakan ketika Anda ingin berfoto. Fondasi patung yang berada di atas pantai ini sudah selesai tahun 2003 lalu. Tetapi pembuatan patung Gandrung baru selesai sekitar akhir 2004 lalu. “Yang mahat 3 orang, 1 orang Banyuwangi, 1 orang Jawa Tengah, dan 1 orang dari Bali,” lanjut Bu Siti. Proses pengerjaannya memakan waktu 3 bulan. Salah satu pelukisnya bernama Wayan, warga Bali yang tinggal di Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bu Siti ternyata juga mengetahui model yang dipakai untuk patung. “Itu mbak Dila, anaknya pak Jaksa. Tapi foto anaknya lebih cantik dari patungnya. Kalau hidungnya sama,” kata Bu Siti, satu-satunya penjual bakso dan rujak yang paling dekat dengan patung Gandrung. “Dulu warung&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;saya persis di bawah patung itu. Karena diambil Pemda, saya pindah ke mari (di pinggir jalan, red),” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Batu Besar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="" src="http://www.wisatanet.com/images/story/0000000004_gb4_watudodol4.jpg" align="right" border="1" /&gt;Jangan dulu buru-buru pulang atau pergi ke Bali, sebelum Anda melihat ada sebuah batu besar yang terletak persis di tengah jalan di Watudodol tak jauh dari patung Gandrung. Batu ini mirip dodol. Rupanya batu yang tinginya kira-kira setinggi tiang listrik merupakan muasal wilayah itu disebut Watudodol. Mungkin karena bentuknya yang seperti dodol.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Batu ini menjadi unik karena memiliki sejarah sendiri dan cerita mistik di dalamnya. Daerah ini pernah dijadikan sebagai tempat pertahanan dan perlidungan tentara Jepang ketika Perang Dunia II. Karena dianggap mengganggu, batu yang berdiameter sekitar 10 pelukan orang dewasa ini oleh tentara Jepang pernah hendak dipindahkan. Namun, walau sudah puluhan orang dikerahkan untuk memotong batu tersebut agar bisa digulingkan, tidak membawa hasil. Lalu Jepang memutuskan memindakan batu itu dengan ditarik kapal. Ternyata sang batu tetap saja tak bergeming. Kabarnya malah kapal yang menarik itu tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain mengunjungi sumur air tawar, orang Bali khususnya para sopir truk sering berhenti di Watudodol untuk memberikan persembahan di batu ini, seperti kembang, buah-buahan, uang dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping pesona keindahan dan mistik, Watudodol menyimpan catatan sejarah yang menarik. Watudodol adalah pintu gerbang ke wilayah paling timur pulau Jawa. Bala tentara bisa masuk dari sini menuju ke selatan (Jember) atau ke arah barat (Situbondo).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanggal 14 April 1946, Belanda ingin mengadakan percobaan pendararatan di Ketapang, tapi berhasil dihalau oleh tokoh masyarakat Banyuwangi di antaranya Pak Nusahra. Ketika Belanda akan mencoba mendarat di pantai Meneng dan pelabuhan Ketapang, pada 20 Juli 1947, Belanda kembali gagal, karena mendapat perlawanan meriam yang gigih dari pasukan Indonesia di bawah pimpinan Mayor R. Abdul Rifai. Esoknya, Belanda kembali berusaha merebut Watudodol dengan mengerahkan pesawat tempur, tapi kembali terpukul setelah kapal mereka berhasil ditenggelamkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Anda lapar atau ngantuk serta bermaksud hendak menginap, di Watudodol Anda bisa mampir di restoran dan hotel di sekitar itu. Tarifnya berkisar antara Rp 100.000 sampai Rp 200.000.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="" src="http://www.wisatanet.com/images/story/0000000004_gb3_watudodol3.jpg" align="right" border="1" /&gt;Dari Watudodol, sekitar 2 kilometer Anda sudah sampai di pelabuhan Ketapang. Kalau Anda ada di feri yang menuju ke Gilimanuk, ketika ada sinar matahari, Anda bisa menyaksikan anak-anak dan pemuda yang mata&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;pencahariannya berenang menunggu lemparan uang logam atau kertas. Kemudian mereka berebut untuk mengambilnya. “Yes no, yes no....,” ujar pemuda di sana, yang artinya (karena pengetahuan bahasa Inggirs mereka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;minim) bukan “ya-tidak, ya-tidak”, melainkan “lemparin duit dong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:arial;"&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/js/wfapiv2.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=post&amp;amp;cid=TEXTAREA_ID&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://cdn.gigya.com/wildfire/JS/WFButton.js?module=share&amp;amp;partner=31331"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51); font-style: italic; font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3735822752687860574-896692367762652249?l=wisataqta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisataqta.blogspot.com/feeds/896692367762652249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3735822752687860574&amp;postID=896692367762652249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/896692367762652249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/896692367762652249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisataqta.blogspot.com/2008/09/pantai-watudodol.html' title='Pantai Watudodol'/><author><name>Quarta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SJq3oBpsatI/AAAAAAAAAKE/m2vzfQzi7ew/s1600-R/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3735822752687860574.post-9221487635573067817</id><published>2008-08-25T15:55:00.000+07:00</published><updated>2008-09-20T11:50:03.459+07:00</updated><title type='text'>Suryo Sumirat Menjaga Tradisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Tak salah kiranya jika Solo dikenal sebagai kota&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;budaya. Selain memiliki banyak peninggaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;sejarah berupa bangunan lawns yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;menyimpan banyak kisah, Solo juga menyimpan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;banyak seni tradisi dan budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 255, 153);"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;div style="border-style: none none double; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(204, 255, 102); border-width: medium medium 4.5pt; padding: 0cm 0cm 1pt;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SLJ-1nYyY9I/AAAAAAAAALk/G_tvXpLL6JQ/s1600-h/Solo.BMP"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 253px; height: 245px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SLJ-1nYyY9I/AAAAAAAAALk/G_tvXpLL6JQ/s320/Solo.BMP" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238388776156423122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;bt&gt;T&lt;/bt&gt;&lt;/span&gt;erjaganya peninggalan-peninggatan adituhung ini tentu tak tepas dari peran warga yang setia menjaga jati diri kola. Seperti yang ditakoni Yayasan Suryo Sumirat, yayasan binaan Pura (keraton) Mangkunegaran, Solo. Tanpa kenal letah, mereka terns berupaya melestarikan seni tari yang dulu pernah menjadi hiburan bagi para raja maupun kalangan rakyat biasa.  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Jangan kaget jika penari di Suryo Sumirat, sebagian besar tercatat sebagai penari kerajaan atau penari Langen Praja. Tugas utamanya tak main-main, membawakan tari-tarian sakral milik Pura Mangkunegaran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sejarah sanggar taxi ini dimutai pada tahun 1982. Pencetus ide pendirian sanggar tari ini adalah Gusti Pangeran Haryo (GPH) Herwasto Kusumo, adik kandung Sri Paduka Mangkoenagoro IX, raja di Pura Mangkunegaran. Saat itu, yayasan yang hingga saat ini menggunakan komplek Pura Mangkunegaran sebagai tempat latihan ini lebih cenderung mengajarkan tari-tari kreasi baru yang banyak berkiblat pada sanggar tari Swara Mahardika pimpinan Guruh Soekarno Putra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah sepuluh tahun berlatu, GPH Herwasto meneturkan ide untuk menggali serta mempelajari kembali tari-tari klasik yang di masa itu pernah populer. "Sejak itu tari klasik mulai dipelajari. Tidak hanya oteh para remaja. Tapi juga oleh kalangan anak-anak," kata Joned Sri Kuncoro, Ketua Harian Yayasan Suryo Sumirat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurutnya, peserta didik di sanggar tari ini tidak hanya berasal dari kalangan keturunan bangsawan. Tapi, hampir semua pendaftar yang dianggap memenuhi syarat dan memiliki bakat diterima dan dilatih. Dan kini, Suryo Sumirat tetah memiliki tebih dari 400 anak didik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Joned mengatakan, selain menari di acara kerajaan Pura Mangkunegaraan, para penari dewasa di Yayasan Suryo Sumirat juga sering diundang untuk unjuk kebolehannya di berbagai daerah. Baik untuk menari klasik, atau yang modern. "Biasanya di acara-acara resmi oleh kalangan swasta. Tapi kebetulan bukan saya yang ngurus. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; manajemen Lain. Saya lebih banyak terlibat ke tari klasik," kata Joned yang juga salah satu pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI ) Solo ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;Wayang Bocah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Saat ini, di Solo memang banyak berdiri sanggar tari. Hanya saja, sanggar-sanggar tari itu lebih banyak mengajarkan tari-tari untuk penari dewasa. Baik tari modern, klasik, atau kontemporer. Sanggar Tari Suryo Sumirat mungkin satu di antara sedikit yang mengajarkan tari untuk anak-anak dan dewasa sekatigus. Bahkan khusus taxi anak, yayasan ini tetah menelorkan sebuah mahakarya yang kondang disebut&lt;br /&gt;dengan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wayang Bocah.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sesuai dengan namanya, karya ini merupakan pengejawantahan beragamcerita atau lakon di pewayangan. Lebih tepatnya, karya ini adalah wayang orang yang semua lakonnya diperankan oleh bocah-bocah berusia di bawah 13 tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Joned mengatakan, tidak semua anak peserta didik di Yayasan Suryo Sumirat dapat menjadi bagian dari Wayang Bocah. Hanya peserta didik yang memiliki kualitas serta bakat menonjol saja yang ditaris untuk melakonkan berbagai peran dalam Wayang Bocah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Disinggung soal tujuan pembentukan Wayang Bocah, Joned mengatakan sebenarnya hal itu dilakukan untuk regenerasi saja. Dia beralasan saat ini jarang sekali remaja yang mau mempelajari Wayang Orang. Makanya dipilihlah anak-anak yang masih mudah dibentuk. Kalau kemudian Wayang Bocah diterima oleh masyarakat, itu adalah bonus dari apa yang telah dilakukannya. "Karena tujuan utamanya adalah melestarikan apa yang pernah dan telah ada di masa lalu," imbuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Soal prestasi, Wayang Bocah telah mengukir banyak pujian. Misalnya, pementasan sendra tari kolosal &lt;i&gt;Romayana&lt;/i&gt; pada tahun 2007. Setahun kemudian, Wayang Bocah Suryo Sumirat jadi peserta terbaik Festival Wayang Bocah di Solo. Dan hal itu terulang setahun berikutnya. "Mereka juga menjadi penyaji terbaik lomba tari anak-anak tahun 1999," sambung Joned.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tak hanya itu, Wayang Bocah juga mendapat kehormatan untuk tampil dalam acara Jumenengan (peringatan) Kenaikan Tahta Mangkoenagoro IX. Padahal, untuk tampil sebagai pengisi acara di acara ini dibutuhkan banyak prasyarat. Yang, pasti, kesempurnaan pertunjukan adalah syarat utamanya. Sebab, para penari harus menari di hadapan Raja Pura Mangkunegaraan dan tamu undangan yang kebanyakan adalah orang-orang penting republik ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3735822752687860574-9221487635573067817?l=wisataqta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wisataqta.blogspot.com/feeds/9221487635573067817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3735822752687860574&amp;postID=9221487635573067817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/9221487635573067817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3735822752687860574/posts/default/9221487635573067817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wisataqta.blogspot.com/2008/08/suryo-sumirat-menjaga-tradisi.html' title='Suryo Sumirat Menjaga Tradisi'/><author><name>Quarta</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SJq3oBpsatI/AAAAAAAAAKE/m2vzfQzi7ew/s1600-R/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Zy9NH7-2f-I/SLJ-1nYyY9I/AAAAAAAAALk/G_tvXpLL6JQ/s72-c/Solo.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
